Mbah Santo

“Es ist leichter, ein Atom zu zertrümmern als ein Vorurteil.”
“Lebih mudah menghancurkan atom dari pada menghilangkan prasangka.” Ucap Einstein mantap ketika menyaksikan sendiri konsepsi Ubermensch milik Nietzsche diusung panji-panji Nazi untuk melakukan ‘pembersihan’ di tanah kelahirannya.

Hampir enam dasawarsa kemudian, rupanya ucapan ini mau tak mau harus diamini oleh mbah Santo. Ia memang tak tahu menahu tentang si jenius yang di hari tuanya didiagnosa menderita sindrom Asperger, ia juga tak tahu sumbangsihnya kepada dunia. Tetapi ia tahu bahwa negerinya menghadapi masalah pelik yang juga mengguratkan kegelisahan di dahi Einstein: suburnya prasangka. Ia hidup di zaman ketika prasangka adalah senjata pemusnah paling efektif yang pernah diciptakan pikiran manusia.

Kala itu November 2010. Gunung Merapi, yang dahulu menurut cerita lokal bernama Jamurdipo dan jadi tempat pemusnahan dua empu yang terus berselisih kembali bergolak. Sang Giri tak mau tahu perihal nasib puluhan ribu orang yang mencari penghidupan di lerengnya. Ia menyemburkan awan panas berkali-kali. Langit menghitam, penduduk panik mencari tempat-tempat aman. Dan mbah Santo adalah salah seorang pengungsi tersebut. Semula ia mengungsi di Babadan. Tapi karena tak aman, mereka lalu ke Bantul, dan pihak Gereja Ganjuran menerima mereka. Tapi rupanya sekelompok ormas berjubah yang menganggap diri mereka sebagai wakil Tuhan mendatangi mereka. Mbah Santo yang pikirannya masih sengkarut memikirkan nasibnya masih ditambahi kecemasan lain untuk pindah, tentunya dengan paksaan. Alasannya sederhana: sekelompok orang ini curiga ada pengkaderan yang akan dilakukan gereja. “Padahal, di gereja hanya mengungsi. Saya Islam dari lahir, dan tidak keberatan kalau harus mengungsi di gereja. Yang penting aman. Mengungsi di masjid juga tidak apa-apa, jika ada yang mau menerima.” papar mbah Santo bingung.

Saya jadi teringat peran apik yang dimainkan Meryl Streep dalam film besutan John Shanley, “Doubt”. Sebagai Sister Aloysius, kepala sekolah yayasan Katolik, ia mencurigai Father Flynn (Philip Seymour Hoffman) melakukan pelecehan seksual ke salah satu murid hanya karena memergokinya mengembalikan celana ke loker murid tersebut. Penjiwaan karakter Meryl dan Philip membuat saya harus memutar otak untuk memihak siapa selama film itu berlangsung. Film ini cerminan betapa berbahaya suatu dugaan yang berangkat dari prasangka buruk.
Masih di rezim yang sama dengan Einstein, hidup Gadamer. Filsuf yang terkenal karena berhasil melanjutkan hermeneutika filosofis rancangan Heidegger di “Wahrheit und Methode”. Ia menegaskan bahwa prasangka adalah sah, hanya saja harus ada pembeda yang jelas antara prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim. Menurut Gadamer, walau kita mengakui otoritas suatu tradisi dan bahkan menjadi bagian dari tradisi, hal itu tak serta-merta harus mengukuhkannya sebagai sesuatu yang saklek dalam pengambilan sikap. Sebaliknya, tradisi justru harus bisa membantu kita mencapai pemahaman paling sublim. Yang jadi permasalahan adalah jika prasangka yang  sifatnya memang sudah apriori ini diambil tergesa-gesa, melakukan simplifikasi suatu realitas hanya dari sudut pandang dan latar belakang pribadi. Efeknya seperti gunung es. Seperti yang ditakutkan Sartre, bahwa ada kekacauan yang tersembunyi di baliknya, yang mengakar begitu kuat dalam jiwa manusia yang mendapati informasi secara subtil. Itu akan terus membekas dan lebih jauhnya, menyebabkan orang-orang memercayainya. Kegagalan ini karena berangkat dari kurangnya pemahaman terhadap sumber pijakan lama yang dianut. Roda dialektika aus, sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya memahami suatu fenomena secara utuh. Objek lain yang memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya sendiri pun menjadi faktor pendorong mudahnya berprasangka. 

Betapa menggiriskan hati memaknai bencana yang seharusnya jadi batu tapal lahirnya kemanusiaan justru disisipi prasangka purba yang mengacu pada kepentingan agama, ras, dan golongan.  Maka seperti salah satu sajak Tagore dalam “Stray Birds” yang mahsyur itu, “mereka menaruh lentera di belakang mereka / menebar bayang-bayang mereka / di muka mereka
Entahlah. Agaknya Mbah Santo akan terus termenung, terus garuk-garuk kepala. Tapi mbah Santo pun dipaksa harus tahu, tak semua orang berani membawa lentera di depan mereka, menampakkan mukanya sendiri, tanpa tersamarkan bayang-bayang latar belakangnya. Mbah Santo harus paham, dia adalah sempalan masyarakat komunal yang bahkan untuk berbagi welas-asih pun masih sungkan, tak berani sendirian.


Semarang, 2012

No comments:

Post a Comment