Desa yang Penduduk Kota Impikan

Kota-kota kembali ke peraduan. Malam bermegah diri dengan bintang-bintangnya. Kegelisahan hinggap di pucuk-pucuk rumah. Angin berdiam diri seperti berduka terhadap daun-daun yang digugurkan hujan sore ini. Aku pulang disambut lolongan panjang seekor anjing, seperti sebuah kesakitan purba, lekat dari jaman ke jaman. Telingaku mendengarnya sebagai ajakan mengamini bahwa kesunyian akan selalu datang dan menetap meski para pemilik rumah tak siap.

Aku lihat sepasang burung brondol yang tekun membangun sarang dari rambut-rambut penduduk yang jatuh. Riwayat ingatan, riwayat ketakutan, riwayat kejijikan. Seolah-olah sarangnya adalah tempat terbaik untuk merawat kenisbian sejarah, seolah-olah bisa mengabadikan hangat yang tak pernah dibawa malam-malam ini. Entahlah, dalam ngiluku aku masih bertanya-tanya: gigil mereka datang untuk melaknat siapa? dingin mereka tidakkah sungkan atas nama besar pagi? Kucing-kucing yang terus mengintai gelagat tikus, cericit-cericit rakus. Ia menajamkan cakarnya seperti sudah sangat mengenal kebiadaban waktu dan penyesalan.

Aku tetap berpangku tangan. Mataku menghadapi sawah terbentang. Di salah satu petak yang tak lagi dipekerjakan, aku melihat tuhan terus mencangkul. Aku menyapanya. Dia melambaikan tangan sambil berteriak, "Tak ada hari libur, nak! Aku harus menggemburkan tanah-tanah ini. Tanah tempat kalian tumbuh dan menghilang. Lumpur tempat kalian lahir dan berpulang!"

No comments:

Post a Comment