Bayi Mungilku

Ompolnya di mana-mana.
Kadang membuatku harus
menjemur kasur yang kubuat
dari lembut bulu-bulu kata.

Aku ayah yang kurang tidur.
Mimpi-mimpiku jadi kian kabur.
Aku bosan mengganti popoknya.

Gerutuku tak benar-benar
dihiraunya hingga suatu ketika
ia fasih bicara meski terbata:

"eh, orang tua tak tahu diri!
kau harusnya berterima kasih!
Siapa yang memurnikan
kesedihanmu melalui tangis
jika bukan karena andilku? 
Kau lupa siapa yang paling
minta kumanjakan jika dunia
dan nasib buruk menuntutmu
dewasa dan menjemukan?"

Aku yang sudah diserang
kantuk berat hanya bisa
mengingat tangan kecilnya
mengikatkan tadah liur
hingga mencekik leherku.

2012

No comments:

Post a Comment