98

Ah, Mei.
kota ini hanya memiliki sebelas bulan
satu sisanya tinggal serpih ingatan.

Gemeretak gigi tukang becak
seperti alunan nada-nada piano,
membuatku ingin menjaketkan
segera tubuhku ke tubuhmu.

"Aku ingin ke stasiun balapan", katamu dulu.
Setibanya kujemput, maut langsung memagut.
menyelinap ke gudang tembakau dan tebu.
ke jam tangan warga yang hitung kelu.
Di sana kau, segala kau, terserak jadi abu.

Tangis memijah, porakporanda sudah.
Tak ada yang tersisa, semua terjarah
dari kotak perhiasan sejarah.

Ah, Mei.
andai aku bisa
mencegahmu.

Bertahun-tahun sudah,
luka yang sirah telah ku dedah.
Meski aku tampak hancur lebur
setidaknya penuh ucapan syukur.

Ku tunggu kau sekali lagi,
di stasiun ini, di penantian kini.
Mari sekali lagi menata ulang
hal-hal manis yang tak tersulang.

Ah, Mei.
Pulanglah. Berdamailah.

Solo, 2007

*) Catatan:
Judul '98' mengacu pada tragedi Mei 98 yang juga meluluhlantakkan Solo. Puisi ini saya buat di kisaran taun 2007 dan baru saya temukan lagi arsipnya di tahun 2012. Setelah 15 tahun berlalu, puisi ini saya gunakan sebagai pengingat pribadi bahwa kota kecil ini, dalam keberdiamdiriannya, pernah hasilkan bom waktu yang efek ledakannya masih terasa sampai sekarang. Kota yang begitu saya cintai pernah menjadi kota yang sangat saya benci. Darinya saya belajar bahwa trauma memang tak bisa sepenuhnya hilang, tetapi ia media pembelajaran paling efektif untuk tak mengulangi kebodohan yang sama, agar orang-orang yang menghuni kota ini tak lagi bersumbu pendek, tak lagi mudah dihasut, dan menyadari pentingnya berdamai dengan masa lalu. Meski harapan mulai menipis, bagaimana pun, saya masih berharap mereka yang hilang pasca Mei 98 bisa ditemukan. Saya percaya, dalam 'keterasingannya', mereka punya cukup suara untuk mengusik kita, mengusik pemerintah.

No comments:

Post a Comment