Sarimin Tak Bisa Lagi Pergi ke Pasar

1/
Sarimin seperti artis kenamaan. Sarapannya sanjung puja, tidurnya beralaskan decak kagum. Ia sukacita di kampung ini. Tempat mimpi-mimpi dikacaukan nyamuk-nyamuk ibukota, dalang di balik penghisapan negara. Sarimin berlagak seperti mesias yang turun untuk menebus warga dari gelimang duka. Padahal ia hanya dipaksa pawangnya memarodikan kehidupan dengan menjadi pesolek, pekerja, petani, atau profesi apa saja. Tak peduli seberapa letih Sarimin berpura-pura, yang penting dapur sang pawang bisa ngebul, persetan didapat dari hasil ngibul.

2/
Kampung ini tak kenal berita. Jika ingin tahu derita tinggal menuju para-para. Menyandera wortel, mencecar ketumbar dan lada. Menanyai sarden dan koktail yang dikemas dari kota. Rupanya mentri-mentri memantrai mulut sendiri dengan gelimang janji-janji. Mantri-mantri menetak leher saudara sendiri dengan tajamnya nominal biaya berobat. Kulit cokelat menindas kulit cokelat. Hidung pesek meninju hidung pesek. Sarimin jadi takut pergi ke pasar. Jika berani menghibur warga, moncongnya bisa mencium popor senapan. Kata orang, pasar kini milik segelintir yang terpelajar tapi barbar. Di tengah keterpurukkan, kampung ini tak belajar dari sejarah. Kampung ini malah menjamu penjajah. Yang pria memberi makan ternak dengan burger, kaum wanita mencuci jarik dan kutang di sungai cola. Angan tentang ekonomi kerakyatan disimpan di gudang, diletakkan bersama kotak musik repelita yang berdebu. Jika ingin tidur tinggal minta dikeloni wakil rakyat yang setia mendongengkan retorika.

3/
Kampung ini tak mau mencicip ranum anggur di kebun janggut Engels. Enggan mendengar indahnya kicau burung bulbul yang bersarang di kepala Chomsky. Kampung ini tak mau berjaga di mercusuar mata Lenin untuk mewaspadai datangnya perompak. Hidup sok suci, sungkan mabuk secawan penuh gin dari bibir Marx. Kampung ini malas menyoal resesi, menolak menjenguk rupiah yang hampir gagal jantung karena depresiasi. Justru sang pawang malah dapat kursi di parlemen. Di sana ia tinggal berhaha-hihi sambil sesekali menulis haiku hiperealitas basi.

4/
Ketika hari beranjak tua dan warga berangkat tidur,  Sarimin diam-diam melepas topengnya dan memasangkan ke muka sang pawang. Esoknya sang pawang berkaca dan mendapati perilaku tak patutnya mulai mematut diri. Ia menurut saja ketika Sarimin menggiringnya pulang untuk pentas di balai kampung. Dalam tawa puasnya, warga menyelipkan doa agar sang pawang luput melihat bakat kata-kata yang lebih mahir dari Sarimin dalam memarodikan apapun. Semoga sang pawang tak mengajari kata-kata cara mengangkangi puisi yang terlalu polos untuk tahu apa itu harta, apa itu tahta.

No comments:

Post a Comment