Kepada Perempuan


Kutuk minyak jelantah, tangis garam dapur.
Toples terbuka, kue-kue yang berjamur.
Tepung yang mengutuk rasa bersyukur
kekasihmu.

Mungkin aku keliru, tetapi kau harus tahu.
Dunia telah merapal larik-larik kehilangan
jauh sebelum ingatan manusia menggapainya,
jauh sebelum sejarah belajar menulis dirinya.

Kesedihan seperti asap yang membumbung
sesaki paru, sambung-menyambung limbung.
Menari di atas kemah-kemah padang Sinai.
Puing-puing ratap, pecah tak tepermanai.

Mungkin aku keliru, tetapi kau harus tahu.
Perangai kehilangan selalu sama.
Ia mentetak senyum siapa saja.
Memberedel riwayatku, dan mungkin engkau.
Kau bisa menciumnya? Bau mesiu baru.
Tanda ia baru saja meyatimkan rindu.

Tetapi yang aku tak mungkin keliru,
ketabahan purba lebih dahulu bertamu.
Pada Daud, yang meringkuk di jasad Absalom.
Pada kuncup-kuncup awan yang mekar
dan jadi embun di jantung-jantung buah prem.
Pada hujan yang beranjangsana di kemarau tubuhmu.

Tetapi yang aku tak mungkin keliru,
Tuhan adalah saudara kembar ketabahan.
Menjejak saudaranya yang sungsang di rahimmu.
Yang lebih memilih mati jika saja kesedihan
tampak lebih merdeka di mata pualammu.

Pada jalan-jalan lapang yang belum kau kenal
Ia hanya pengemis, menanti haribaru kekal.
Berilah, Ia kan kegirangan layaknya anak kecil.
Kekasih yang tak lalai memelukmu,
hindarkanmu dari jangkauan gigil.

No comments:

Post a Comment