Kepada Ia, Pria Sesudah Aku

kawan, kepadamu aku sering keheranan
bagaimana bisa, engkau diperdaya ia yang
tak punya daya setelah habis kuperdaya?

engkau hanya sebatas buatnya kagum
tapi tak sekali-kali ia merasa nyaman
engkau hanya sebatas buatnya bahagia
tapi tak kan sudi merawat luka-lukanya

dan kedegilan hatiku, kata perempuan itu
seperti kijang haus yang tetap berlarian
meski tahu hutan dalam tahun kekeringan

kau bisa menganggapku sebagai gema
yang hingga kini bergaung di kepalanya
lebih nyaring, dari tuhan yang menjerit

2012

1 comment:

  1. Kau tau,meski berat bagi logikamu,
    mungkin indra perasa perempuan itu lelah terluka,
    ntah jemu menunggumu.
    maka biarlah,
    belajar ia robohkan dinding hati yang tak bertamu selain kau.
    mungkin hatinya telah pasrah dipersinggahi cinta lain yang jelas ada, meski terasa luka.
    ntah, hanya terkaku saja.

    ReplyDelete