Ranting Yang Tak Menumbuhkan Daun

1.

terkadang aku lelah menduga
mengapa gurat senyummu
tak juga mengentaskan diri
dari kesenangannya berendam
di kolam air mata lelaki yang
menyimpan tragedi lebih bah
di mulut yang menggetas ngilu
atau mengapa tenang kupinjam
dari air di dalam periuk sunyi
tak juga meluluhlantakkan gelisah
yang kini samar di antara puing
reruntuhan pertemuan manis kita

entah akan berapa lama lagi
musim gugur tak sungkan datang
untuk sekedar memberi salam
sebagai kering yang maha kekal
hutan terbakar pun tak semata
mengasap karena ulah amarah
menghela pitam seorang diri
aku sering bertanya pada abu
apakah ia adalah kabar awal
dari kemungkinan hidup baru
seusai semusim nyeri yang rajin
ditiupi bibir sepoi-sepoimu?

aku ingin kemarau panjang tiba
dan menghunus bilah panasnya
agar pokok ranting lain sadar
bahwa tak berpayung daun
tak sepedih yang ulat pohon
dan burung kecil takutkan
di mimpi buruk mereka

2.

sebagaimana cinta mengajarkan
tak seharusnya kau rebah bagai
benih di tanah kapur gentarku
menanduskan diri, menandaskan
kehilangan yang amat bungkam
dan hanya sesekali menderik
seperti ular gurun kehilangan
telur di liang yang siang-malam
dibangunnya dengan kepalanya

jangan sekali-kali berkunjung jika
engkau masih meminjam purnama
tuk menyelinapkan jatuh cahaya
di kering tubuh yang bersimpuh
mungkin aku akan  menerimamu
meski dengan mata menahan perih
tetapi sadarkah engkau jika masam
bayang-bayang akan kutelan sendiri
seperti saat engkau mengabaikan
jabat tanganku di ujung jalan itu?

aku ranting yang tak mengemban
amanat akar, tuk menumbuhkan daun
aku hanya mengembunkan kenangan
di ubun-ubun

Semarang, 2012

No comments:

Post a Comment