Persuaan Kedua

baiknya aku menyusuri lagi jalan di tubuhmu
meski dengan langkah-langkah pincang
memar tungkai, biru sebab letih mencarimu
kutanam lagi tiang pancang, kutentukan dukaku
empat titik penjuru, ditarik gelungan nadi malam
yang kini lemah denyutnya

betapa dulu ada yang tertahan di antara kita
kesunyian yang tak sekalipun terbahasakan
kita menjamu diri yang lain, pada inti keheningan
kau yang kini tak lagi mengikat rambut panjangmu
serupa tirai terurai—bagi tengkuk seputih getah damar
sebab gerah gamang telah berlalu, dan ciuman-ciuman
tak seliar dahulu, terbenam oleh gugup masing-masing

kita yang duduk berhadap-hadapan, bersila
engkau menguliti matang luka, dan membaginya
setengah padaku, setengah untuk dahagamu
menyuapi liur masing-masing yang begitu dahaga
pada persuaan kita, pada gericik air di bening matamu
masihkah buihnya memanggil sosokku?

ini debar tak seberapa, jangan kau samakan
dengan gemuruh badai pada jumpa pertama dahulu
aku kan bertolak dari dermagamu
ringanlah melepasku
tak perlu tenaga besar tuk mengarahkan cadik
biar aku yang meredakan ombak di lautku
juga, meniadakan kita

dua yang tak seharusnya saling menyelami

Semarang, 2012

No comments:

Post a Comment