Perhiasan Bagi Tubuhmu

Yang bisa kau lihat dengan mata telanjang itu organ dalam tubuhku. Sebab kerut di kulit telah tergantikan dengan yang lebih ramah terhadap cahaya. Susah payah aku merekatkannya dari potongan kaca, kaca apa saja yang bisa dikumpulkan. Kaca akuarium, lampu, kaca etalase toko, atau dari tangis matamu yang dulu kukeringkan.

Kau selalu kuperingatkan untuk tak berdiri terlalu dekat dariku, setengah kesal kau menurutinya dengan berdiri dari kejauhan sambil menggamit lengan ragu yang cekikikan. Tapi tak apalah, toh senyummu seperti tak mampu debarku tolak, bukankah lembah juga ikhlas menerima air dari puncak gunung meski sebenarnya enggan?

Aku mengingatnya, sayang. Mata delimamu yang kehilangan dirinya sendiri saat melihatku, melihat aksesori yang baru disusun di tubuh, dada, dan punggungku, manik-manik luka yang baru saja direkatkan oleh kehilangan, gelimang sepenuh-penuhnya angan. 

Sering aku mengeluh karena debu menyergapku tanpa permisi, seolah-olah aku belum terlalu legam, setelah berulangkali kau jatuhkan, di parit kekosongan. Aku ingin mandi, meski enggan basah. Dengan handuk kecil engkau mengelapku, dengan kalap, dengan sigap. Aku basah tapi tak seluruhnya, seperti jika seekor burung mencelupkan ekornya di pinggir danau, kami hanya ingin tampak segar, juga tegar, tak perlu sampai gegar.

Selama memandikanku kau menangis, kau memandikanku bersama kesedihan, bedanya ia tak pernah benar-benar bersih. Saban engkau menggosok dan memberi sabun, ia terasa perih. Selama aku mengenangmu dengan sering, selama itu pula ia tak akan mengering.

Sebagian dari diriku harusnya telah kau bawa pulang, jadi perhiasan bagimu, tidak hanya kau mimpikan untuk kemudian terlupakan, karena rencana-rencana jangka pendek dan tuntutan hidup yang harus kau penuhi bertubruk-tabrakkan di ingatanmu.

Semarang, 2012

No comments:

Post a Comment