Kunang-Kenang di Tubuh Kata

kali ini aku ditegur pekat malam, dengan nyaring
aku dibentak, ludahnya berhamburan seperti peluru
sebab pikiranku abai padanya, pada kekosongan
yang amat mengisi — meruang di semesta dadaku
"siapa peduli?" kataku, "aku ingin juga jadi cahaya"

sepasang kunang-kunang aku giring, tuk merumah di dadaku
aku tangkarkan agar beranak-pinak, lebih banyak dari sunyi
sayap kecilnya, serupa kembang layar — di ambing lautmu
mengepakkan takut, di lisut ricuh ombak, merampai nyeri

lewat sepertiga hidup kuhabiskan untuk mengamatinya
bahkan semasa kecil aku percaya apa yang orang bilang
bahwa mereka adalah reinkarnasi ruh orang-orang baik
aku mengangguk, seperti kepatuhanku pada kata-kata

aku menyukai kunang-kunang semenjak sore itu
ketika bermain di ladang, di bawah langit oranye
mereka payet emas, di gaun hijau petak-petak sawah
hiasan yang bisa berpindah tempat, terbang sesukanya

aku ingin jadi pijar bagi langit tubuh minim cahayamu lagi
kadang  hendak datang, tapi ragu menuntunku pada malu
aku takut kilau kan melukaimu — menusuk kering matamu

tapi aku kunang-kunang, yang dulu hinggap di putingmu
yang terbang dan masuk dari segaris jahitan di perut kirimu
nganga tak seberapa lebar tapi dalam, tempat lahir debar
rabalah lagi, di sana, aku masih bersemayam di bekas lukamu

"apa anak-anak rindu telah sebesar aku? — terbiasakah
lidah pendek mereka mengucap ayah saat melihatku?"
ayah yang tak serupa parasnya, o wajah yang hitam
redup di lengkung tawa, bayang-bayang ibunya

masih kusimpan kunang-kunang di toples bening itu
tutupnya aku lubangi, agar masuk udara, agar tak mati ia
sebab cukup aku saja, yang disesaki bata
sebab tak henti mengejamu — di rahim kata

— Surakarta, 2012

No comments:

Post a Comment