Yang Masih Terlihat dari Segenggam Tanah Liat

kau jumput sedikit, dari kawanannya yang sengit
kau bentuk dan padatkan semaumu, dengan jemari
yang kali ini tak menulis puisi, tak membelai rambutku

kau rekat-rekatkan ia, yang lebih liat dari bibir basahmu
tetapi lebih rapuh, dari janji yang akhirnya kita ingkari
saat cukup besar, kau tersenyum lebar, senyum barbar

kita saling melempar, di pematang sawah luas ini
di bawah senja terhampar, pecah segala tawamu
bak penyakit sampar, riangmu mewabah, padaku

kita berguling-guling, seumpama baling-baling
pesawat yang berputar kencang jauh di atas kita
menyerak awan, mementahkannya, bak lawan
yang kerap mendustakan janji seputih cendawan

ini mainan yang sebenarnya sederhana
hanya butuh keberanian, untuk mau kotor
maka kau bisa kerjai aku, menghitamkanku
melempar buncah tawamu, mengkhatamkanku

kala itu aku mengenakan kaus berwarna putih
yang dibelikan ibu setahun lalu di pasar malam
tapi tak kuhiraukan, sebab noda mungkin hilang
tetapi senyummu tidak, ia yang kelak berdiang
di dada paling liang, pusat nyeri tak terbilang

jika suatu hari aku ingin mengingat sayupmu
aku hanya perlu memandangi bekas noda
yang tak mampu diseka, tangan ibuku sendiri
mungkin ia hanya pudar, dan duka berpendar
jika berulangkali dicuci, oleh tangis paling suci

nanti jika engkau berkunjung lagi ke kotaku
aku akan mengenakan kaus baru, bukan yang itu
kali ini yang hitam, yang membuatmu naik pitam
karena tak dapat kau kotori, tak kau nistakan lagi
kali ini yang hitam, serupa sunyi yang kau hadirkan
pada malam, dimana makam jadi tempat bermukim
ketiadaanmu

Semarang, 2012

No comments:

Post a Comment