Ruang bagi Radang

aku memaksa tubuhku
mendatangi rumah sakit itu
kini harus berobat
sebab tak kudapati
yang membelit kerongkongan
sejak seminggu lalu
sakit yang kali ini
tak terbahasakan

seperti ada petir
yang berkilat di jakunku
aku mengunyah debu
sebesar mata kaki
menelan bilah-bilah pisau
tajam merucuk lidah
buatku sering meludah
dengan bau anyir
serupa dengus anjing liar
yang kelaparan di jalan malam

kudengarkan kata dokter
ia seperti ahli nujum
ku ingat katanya
ada bintik putih di sana
seperti hujan nanah yang rinai
di pucuk tenggorokanku

tapi aku melihat lebih dari itu
sebab kudapati engkau
berpayung di sana, kuyup
sengalku menguntai engkau
di sana, meladang bunyi
memingit sepi dalam
lantunan sunyi tak bertepi

engkau memaksaku makan
aku hanya mengangguk
sekali-kali enggan kutelan
ia yang lembut bernama bubur
sebab seratnya masih kasar
sengatnya masih panas
serupa bulir-bulir bilur

— Semarang, 2012

No comments:

Post a Comment