Penyair Tua itu

Usianya tak lebih banyak dari jumlah kerut di tubuhnya, penanda perjalanan panjang yang ditempuh kaki-kakinya, kaki kering, yang langkahnya asing. Ia bersiap mendapati bahwa makna dan kata yang menemani sehari-hari akan menguap dan pergi, seperti kekasih maut yang datang singgah, hanya untuk menakar gelisah, lalu pergi lebih dini dari matari, dan meninggalkan tapak-tapak nyeri.

Berkebun menjadi kesenangannya, sebab di sana ia bisa bercerita banyak kepada bunga-bunga, tentang cinta yang mengelopakkan hatinya saat muda. Matanya yang seperti apel, putih berair, matang oleh kehilangan, terus menceritakan perihal ketulusan kepada tanah basah, yang menanti hujan juga berbagi kesedihan, jika kemarau menyambanginya semusim lama.

Tetapi ia sadar, perjalanan akan tersendat, geligi akan aus. Ia hanyalah ikan kecil, yang terseret arus. Tak ada lagi esok hari untuk mengaduh, untuk mencintai, atau bahkan berteduh, seperti yang sering ia lakukan di ceruk karang. Tak ada lagi kediaman, seperti lengan kekasih yang bisa dipinjam kepalanya, kepala yang sering mengenyam kenang, untuk menganyam tenang.

Ia menuju alun-alun pada suatu senja. Langit yang genit, yang melepas kancing kemejanya, hanya untuk menunjukkan tahi lalat, yang banyak, berkedip-kedip, dan akan menjadi jutaan gemintang ketika tiba malam, ketika letih tak terelakan. Dari sisa uang pensiunnya, ia membeli koran lalu mengarahkan matanya menuju kolom yang mengabarkan pemberitahuan, bahwa kedukaan bukanlah hal mewah yang harus dibesar-besarkan.

Satu kali dua, di samping bukit rumahnya ia sewa sendiri, untuk tahun-tahun hidupnya. Hidup yang tanpa kata, tanpa makna. Hidup yang kemudian tergantikan oleh sunyi, yang akan membahasakan cemas sama baiknya, yang akan menceritakan resah sama fasihnya, untuk kemudian mewariskan gundah, pada pikiran penerusnya.

2012

No comments:

Post a Comment