Kepada yang Paling Meneduhkan

Pemuda itu melambatkan gontai langkahnya, lalu bersandar di kaki pohon tarbantin. Dari raut wajahnya, tampak ia letih dan ingin sekali mengistirahatkan batin. Aku perhatikan keningnya basah oleh keringat, rupanya ia demam tinggi, sakit yang membahasakan cemas sebagai hikayat, kisah panjang gelisah yang dipeluk hayat. Tak seberapa lama, dikeluarkan secarik kertas dan pulpen dari tas ranselnya, amboi! ia nekat hendak membuat kwatrin.

Ia mulai memuntahkan kata di kepalanya, kepala yang serupa perigi, licin jua dalam, tempat kenangan kebingungan mengenali dirinya sendiri, sebab gaungnya samar dan serupa. Rumit isinya mengingatkanku padamu, perempuan yang badannya lebih rimbun dari jajaran kanopi manapun, tempatku bisa berlarian dan menyusurinya siang malam tanpa takut terjerembab dijerat ulur-sulur waktu, rumah bagi dahaga keingintahuanku, yang jika haus aku hanya perlu menengadahkan tanganku, dan menanti hujan setiap sorenya, dari langit-langit matamu.

Dadaku masih menumbuhkanmu, sebab tiada lebih rindang selain engkau, yang nyata sejauh garis pandang. Bibirku masih mendendangkanmu, tempat puluhan malaikat mengepakkan sayap-sayup suara, suar kilau hilangmu. Kepalaku masih mencari pundak pokok pohon arasmu, yang meneduhkan, pula menadahkan keluh kesah, dari sengal napas puisiku. Aku tak ubahnya benang sari yang sering berayun-ayun di dahan angin, sedia diterbangkan kemana pun, sejauh dan selama ia mau. Aku masih hidup di tajukmu, tempat embun pagi menderas menjelma doa, yang aku daras keras-keras.

aih! di mana pemuda, yang tadi berjanji hendak membuatkan kwatrin bagimu? rupanya ia masih di sana, tetapi sudah tertidur pulas

jangan kau bangunkan

1 comment: