Surat Pertama: Salju Di Mata Nenek

Untuk, salju di mata kanan nenek saya.

Jangan takut, saya tak sedang mengutukmu. Jika surat ini ditulis beberapa tahun lalu mungkin saya akan menaburkan caci kehadapanmu. Memang, awalnya saya mengutukmu dengan tanya semacam "mengapa mata orang sebaik beliau kau singgahi? tidakkah cukup musim hujan menderas di matanya saat kehilangan suaminya?" atau "betapa berani kau menempati bola mata malaikat ibuku, perempuan yang tak ada tandingannya dalam masak-memasak, ibu yang bibir dan dadanya melantun doa bagi anak-cucunya?


Telah satu dasawarsa ini kau menetap disana, dan saya mulai terbiasa menatapmu. Saya menerimamu sebagai bagian dari sukacita keluarga kami, oleh sebab peristiwa sore itu, ketika beliau yang terus kami desak untuk mau menjalani operasi akhirnya menjawab, seperti ini, 

"jika dengan satu mata nenek masih bisa membaca alkitab, ke gereja sendiri, memasak bersama ibumu, dan merawat tanaman hias, apa yang nenek risaukan? Toh tuhan masih mempercayakan satu mata untuk nenek. Terpenting, sisa mata nenek ingin melihatmu menyelesaikan pendidikan, dan menikah."

kerongkongan saya tercekat,

mata saya panas, seperti ada yang mencambuk tapi tak kasat

Konon penderitaan adalah surga pemahaman-pemahaman baru, saya mengamini. Mungkin memasung mata kanannya adalah cara Tuhan memasang lagi sayap di kedua punggungnya.

Terimakasih telah membuat beliau memandang segala keindahan Tuhan dengan lebih.
Terimakasih telah membuat beliau mempunyai ucapan syukur lipat ganda yang mungkin tak dimiliki perempuan seusianya.

Tinggalah di matanya, hingga ia menatap mata Tuhan untuk kedua kalinya.

Salam saya, 
cucu beliau yang senantiasa memeluknya dalam doa.

1 comment:

  1. keren ya..tulisan km sarat dgn makna,keliatan nya km seorang pemuda yg msh belia,tp kemampuan menulismu two tumbs up (y)

    ReplyDelete