Menara Babilonia Dibangun Ulang di Tubuhmu

aku masih mampu mengingatnya
jika berdiri tegak perempuanku
setinggi pucuk menara babilonia
lekuk cincin leher berundak-undak
jejak pagut bibirku tapak setapak
pipi merona merah jamur cendawan
halus lembut, tempat menawan awan

dia gemar menyisir rambut ekor gagak
yang hitam sepitam, panjang terurai
tak kusut kisut serupa beliung badai
tiap helainya adalah nyaring dawai
sewaktu-waktu dipetik jemari udara
kadang aku percaya rambutnya juga
jembatan bagi malaikat seisi surga
tuk turun ke bumi, selepas tiba senja

alis matanya lengkung busur pelangi
memulas alas langit, ladang kemangi
melintang bebaris baiduri mewangi
malu menyemburat di langit pagi
bibirnya tipis, tanah kerontang kering
kelupas tutur lembut paling sering
himpunan urat-urat doa teranyam
satuan keluh kesah jalin-menjalin

perempuanku suka merebahkan
diri di panjang ranjang tua milik
ibu dan ayah yang entah dimana
empat kaki kuat pohon damar
saksi bisu atas dia yang gemar
tidur tak berbaju, menyisakan
tubuh sintal bermekar payudara
menyembul, memadat gandum,
membal, tempat bahagia dipintal

jika malam tiba padang belakang
yang tak disentuh purnama ku sulap
menjadi kedai pertunjukan seni bagi
kedua telinganya, kubacakan cerita
dan juga seikat puisi berserbuk cinta
tuk berjaga-jaga jika kehilangan tiba
begitu tiba-tiba, menyata wujud tiada
cikal duka dari sekedar ribuan hasta
atau berjuta depa, mungkin jauhnya
kumpulan titik-titik cemas tak terkira

o, puanku, puan tubuh menara babilonia
jangan biarkan Tuhan mengulang murka
kedua kali, lalu mengalung rerupa luka
kala ratapku tak kunjung menemu atap
di teduh jiwamu

2 comments:

  1. aargh kosakatanya luas bangeet <--sirik

    pasti di waktu luang makanannya kamus ya hahaha

    ReplyDelete