Asap Raga

Akhirnya engkau tetap menguap, kembali menyuar gelap langit, menyesaki hingga pengap. Kau persilahkan ricik getir menderas di tubuhmu, seperti geliat ikan sembilang, di hilir hilang tak terbilang.

Tubuhmu terbujur kaku, sebab segala mujur keluar dari lajur tabahmu. Kesembuhan berbaris membujur, silap sial membanjar, mereka berjalan beregu, tuk secepatnya menjauhi jalur warasmu.

Tetapi tiada tak ku kenal, sejak dulu aku tahu engkau kekal. Yakin itu dijadikan bekal oleh pikiranku yang majal, tuk tetap menciumi keningmu hingga hilang akal, hingga ajal jua memelukku, memejal.

Maka jemari, kupatri di ruas tanganmu, kuketatkan peluk di teluk badanmu. Aku ikat kau, pada belikatmu, rupa sutra kelindan, tetap kusimpan sayupmu, napas wewangi pandan, agar nyeri kita sepadan.

Kita hanya menunggu telisik angin membawa busuk aroma, yang mempesiang bulu roma. Tajam merajam hidung, mengamsalkan nyeri dalam birama, menyamakan ketukan irama, pengiring tiba iba.

Dan pada persuaan kedua, gelegak rindu kan menyaru lindu. Menghantamku lagi, mematahkanmu lagi, hingga nanti aku terus mengutuk ungkapan, bahwa kesedihan pasti berkesudahan.

1 comment:

  1. another cool poetry :) wow jadi komentar pertamamu mas di postingan kali ini :) aku suka yang "Sepotong Cinta Untuk Ayah"nya :D terus menulis mas!

    ReplyDelete