Reminisensi: Pada Telaga Sehitam Jelaga

ia terlahir dari segala air
tumbuh besar oleh riak-riak duka yang mengalir
dan rindu adalah rerumpun anyelir
yang tumbuh di tepian
lalu dihanyutkan arus kenangan dari hilir

ia ibu dari segala kesunyian
beranak pinak digilir malam yang kesetanan
parau suaranya pertanda kesakitan
meski bibirnya tak henti mengulas senyuman
seperti ketika aku mengantarmu di ujung jalan
lalu seiya sekata mengucap perpisahan
itukah yang disebut kepalsuan?

tubuhnya penuh guguran cahaya bulan baru
bias rerupa sorot matamu
hanya jika purnama urung bertamu
air mukanya keruh seperti abu hasil bakaran kayu

dari diam yang menenggelamkan
ada yang hendak diutarakan
seperti ada masa yang dinantikan
mungkin tunggu agar hembusan angin agak tenang
agar aku dan engkau bisa kembali menggenang

di telaga bibir masing-masing

(2011)

No comments:

Post a Comment