Takdir Hujan

aku tak mampu membayangkan
betapa sakitnya menjadi hujan
kau hantamkan tubuh sendiri di punggung jalan
tanpa ada yang sedia menangkap
tanpa kepastian akan selamat

pernah saat kau akan dijatuhkan
kutengadahkan tubuhku
meski kutahu itu tak cukup membantu
tapi paling tidak, kau lebih dulu menimpaku
yang sedikit lebih lembut
dari apa yang membatu
yang ingin mengerti kesakitanmu
dan berbagi bahagia yang tak semu

kau hanya punya umur singkat
sebelum tubuhmu sendiri
menuntunmu menemui ajal
di dalam parit, di sungai-sungai
di tanah-tanah penghisapan
yang membawamu tiada
apa kau bahagia?

karena aku selalu percaya
engkau adalah duka itu sendiri
yang menyamarkan luka
melalui tangis satu sama lain
melalui suara deras
dan kejatuhan yang bebas

tidakkah kau punya keinginan berontak
dan memohon di kaki Tuhanmu?
untuk tak sesuai jalan hidup teman-temanmu?
tidakkah kau ingin mengusahakan takdirmu?

barangkali memang kau terlampau baik
kau bukan dari bangsaku yang culas dan egois
kau tulus jatuh dan siap terhilang
untuk segala yang perlu curahanmu
padi dan segala tanaman
bunga dan segala pepohonan
mereka umat yang melipat tangan
untuk rindu kau senangkan

barangkali aku harus belajar
dari caramu membahagiakan
membaca takdirmu
untuk kemudian kutuliskan
di dada kekasihku
dada yang kini penuh pelangi
oleh ulah lelaki lain selepas aku pergi


(2011)

No comments:

Post a Comment