Perempuan dan Rajutan Mimpi yang Belum Usai

jarimu tak segan menemui darah segar
sekali dalam sekian ratus sulaman
benang memeluk mata jarum
entah ini yang keberapa ratus ia menikam
aku mengagumi rajutan mimpimu
hingga ke hutan yang paling dalam
tersiar nyaring kecakapanmu

aku curiga ada yang buatmu tekun
semacam wanita lain
yang tertidur di rongga matamu
mungkin ibumu, lidah api semangatmu

wajahnya pucat, seperti dinding telur
yang tak pernah menetaskan apapun
tetapi tekatnya bulat
jika bekerja ia tak ada ampun

semoga waktu tak datang
bersama kereta tercepat pagi ini
agar aku tak terburu-buru dibawanya pergi
aku ingin menemanimu hingga usai
sesambil memijit getar jemari
yang letih menjalin mimpi
karena segalanya akan kubayar tunai
untuk indah tak ternilai

ia kan kubawa pulang ke kotaku
dikenakan dan jadi perhiasan bagi jiwaku
yang mungkin akan kuwariskan pada anak cucuku
yang mungkin juga kepunyaanmu

(2011)

No comments:

Post a Comment