Lima Puisi untuk Sebuah Minggu Pagi



Sekolah Minggu

Tubuhmu disesaki penat
antara Senin hingga Jumat
maka kau memesan sebuah hari
yang terus memberi: Sabtu.

Namun tubuhmu jadi kelu
Sebab Sabtu begitu singkat
dan jiwamu masih mencari hari
yang rentan dicuri: Minggu.

Jauh ke dalam Minggu pagi
adalah alunan musik dan nyanyi
jiwa yang tak lagi sembunyi.

Jauh ke dalam Minggu pagi
adalah irama detik dan sunyi
hujan bagi ladang terberkati.



Pada Sebuah Minggu Pagi

Pada sebuah Minggu pagi
Kalender menggulung diri
Siapa mau diberkati
bisa segera mulai
sebelum waktu
mengunci.

Pada sebuah Minggu pagi
Lonceng tak dibunyikan
Paduan suara ditiadakan
Tak ada nyanyi puja-puji
Hanya sunyi
Isak sonder bunyi.

Dan tubuh-tubuh
yang menjelma puisi.




Saudara Seamin

untuk Evan dan Nathan

“Hari ini firman apa
yang ingin kalian dengar?”

Tanya Guru Sekolah Minggu
yang tidak digubris oleh kami.
Kami tetaplah anak-anak
yang suka bermain-main
dengan nasib kami sendiri
abai pada saudara senegeri.

Guru Sekolah Minggu tersenyum
dan kembali mengulang tanya:
“Hari ini firman apa
yang ingin kalian dengar?”

Kami tetap tak menjawab.
Kami tetap anak-anak yang
berlomba mengeja masa depan
tak mau belajar hanya mau
guyon politik sepanjang hari
pamer iman baru sesekali
sambil sebar hoax tak peduli.

Guru Sekolah Minggu mendekat
dan lembut berujar kepada kami:
“Jika begitu, kali ini biarlah kita
kedatangan murid baru yang rindu
mendengar firmanKu. Jangan
halangi dua saudara seamin itu
datang kepadaKu. Sebab merekalah
yang empunya kerajaan Surga.”

Hari ini sepasang kakak-beradik
telah menjadi firman (juga teguran)
yang dengan pedih mesti kami dengar.





Pahlawan Baru

untuk Aloysius Bayu

Kota ini tak pernah berhenti
melahirkan para pemberani.

Setiap satu pecundang mati
lahirlah satu pahlawan baru.

Orang-orang akan mengingatmu
sebagai nyali. Sepercik nyala
yang menerangi hari gelap
mengusir pengap jiwa kami.

Setiap satu pahlawan mati
lahirlah satu keberanian baru.

Orang-orang akan mengenangmu
sebagai puisi. Namamu harum
di jalan-jalan, di tembok kota
dalam sanubari anak-anakmu.

“Pah, Lawan! Pah, Lawan!”
barangkali seperti itu
bisik kedua anakmu
sebelum kau menerjang
dan seketika hilang.





Dalam Doa

Dalam doaku yang khusyuk
Kusertakan harap pada sebuah kota.
Kota yang cepat pulih dari tragedi
tanpa berlarut-larut jadi komedi.

Semoga Surabaya tetap jaya
senantiasa jauh dari marabahaya.

Tuhan mengamini dengan memberi
pemimpin kota yang dicintai.

Dalam doaku yang khusyuk
Tak lupa kusertakan cinta dan puja
juga sedikit harapan agar kubisa
melihat performa Via Vallen
atau bolehlah Nella Kharisma.

Semoga usia masih panjang
dan rematik tak keburu meradang.

Dalam doaku yang khusyuk
Tuhan menjawab doaku:
“Kon iki kakehan karep, cuk.”