Buku-Buku Harus Terus Mengalir

"Mas, kenapa di kamar mas punya banyak buku?" tanyanya penasaran.

"ben pinter, le. Biar isi kepala ndak kopong seperti isi lutut." jawab saya sekenanya.

"tapi buku kan mahal?" tanyanya lagi.

"itu namanya kita sedang berinvestasi, nabung le. Efeknya mungkin ndak terasa sekarang, tapi siapa tahu suatu saat terpakai." jawab saya lagi tanpa memikirkan apa ia tahu maksudnya.

"jadi aku harus rajin baca buku biar ranking satu?"

"belum tentu, tapi setidaknya kamu akan jauh lebih peka dengan sekitar."

"maksudnya, Mas?" ia kebingungan.

Saya hanya tersenyum.


**

Namanya Davin, tahun ini ia kelas 4 SD. Ia keponakan saya yang acap kali masuk kamar dan menganggu saya ketika asyik membaca. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhananya saya jadi teringat anak-anak jalanan yang pernah saya beri pelayanan semasa kuliah lalu. Ada banyak sekali Davin-Davin yang jauh tak beruntung. Jangankan untuk bisa punya perpustakaan pribadi, rasanya untuk bisa melewati hari tanpa dihantui rasa lapar saja sudah lebih dari cukup. Pagi tadi, saya menata ulang rak buku saya dan percakapan singkat itu kembali mengusik dengan pertanyaan-pertanyaan:

"apa gunanya mengoleksi banyak buku kalau tak dibagi?"

"apa gunanya menyimpan begitu banyak ilmu pengetahuan kalau tak dialirkan ke tempat yang lebih rendah lagi?"


Dari pertanyaan itu saya menyusun niat sendiri untuk melelang beberapa buku saya dan sudah dilelang seharian ini di linimasa. Berikut daftar harga lelang buku beserta pemenangnya per pukul 24.00 WIB. (data yang tersaji dipastikan real count, bukan taksiran lembaga survei tertentu):

Buku Asli


Cervantes - Don Quixote (Penguin Classics) : 201.001 oleh @regirivaldi

WB Yeats – selected of Poems (Scribner Paperback Poetry) : 205.002 oleh @RiskaYourina

Homer – The Odyssey (Wordsworth Classics) : 120.003 oleh @natasabella

Charles Dickens - Oliver Twist (Puffin Classic) : 105.004 oleh @viveree

Fyodor Dostoyevsky – The Idiot (Wordsworth Classics) : 165.005 oleh @irmn_hdyt

Haruki Murakami – IQ84 Complete Trilogy (Vintage Books) : 300.006 oleh @nugrohoekorav

Giuseppe Ungaretti – Selected Poems (Farrar Straus and Giroux) : 90.007 oleh @imam_onet

Nikolai Gogol – Dead Souls (Wordsworth) : 65.008 oleh @irmn_hdyt

D.H Lawrence – The Rainbow (Wordsworth) : 125.009 oleh @szoelkifli

Rudyard Kipling – Kim (Wordsworth) : 70.010 oleh @lalithavistara

Ezra Pound – Selected Poems 1908 – 1969 (Faber and Faber) : 90.011 oleh @imam_onet

Charles Darwin – The Origin of Species (Bantam Classic) : 255.012 oleh @noiirio


Buku Terjemahan


Leo Tolstoi - Anna Karenina vol 1 dan 2 (KPG) : 185.013 oleh @rezhakovf

Fyodor Dostoyevsky - Crime and Punishment (YOI) : 105.014 oleh @irmn_hdyt

Chuck Palahniuk – Fight Club (Jala Sutera) : 110.015 oleh @weningg

Albert Camus – Mite Sisifus (GPU) : 145.016 oleh @regirivaldi

Michel Foucault - Madness Civilization (Ikon) : 95.017 oleh @RnS1184

David Brooks – Bobos In Paradise (Ikon) : 75.018 oleh @hanaiv

Gabriel Garcia Marquez – Love in the time of cholera (Selasar) : 180.019 oleh @devikarolita

Octavio Paz – The other voice (Komodo Books) : 75.020 oleh @ciyecci

Edward Said – Freud and The Non Europe (Marjin Kiri) : 40.021 oleh @leadita

Ghada Karmi – In Search of Fatima (Diwan) : 125.022 oleh @supernopha

Albert Camus – The Outsider (Liris) : 100.023 oleh @NoniZara

Ernest Hemingway – A Farewell to Arms (Narasi): 125.024 oleh @rns1184

Buku Indonesia


Umar Kayam – Para Priyayi & Jalan Menikung (Grafiti Press) : 200.025 oleh @mmychan

Idrus – Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Balai Pustaka) : 175.026 oleh @szoelkifli

St. Takdir Alisjahbana – Layar Terkembang (Balai Pustaka) : 200.027 oleh @anggrayduvita

Goenawan Mohamad – Puisi & Anti Puisi (Grafiti Press) : 135.028 oleh @Hyraonnasaurus 

Sidney Hook: Filsuf Humanisme Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme (YOI) 50.029 oleh @alififiani



NB: 
Bagi pemenang yang bersangkutan, harap mentransfer sejumlah nominal yang tertera (harga setiap buku menggunakan digit unik agar memudahkan proses pengecekan, juga bagi yang memenangkan lebih dari satu buku harap mentransfer dengan nominal per satuan buku) ke rekening BCA 0153160870 a.n/ Immanuel Adimas. Selanjutnya harap mengirim data diri, alamat lengkap, dan no handphone ke immanuel.adimas@gmail.com dengan subyek "Lelang Buku - [judul buku - nama pengarang]".


Terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi. 



Salam,

AI.

Sebuah Kado Sekaligus Surat Terbuka untuk Diri Sendiri



Halo Akal,

selamat menginjak dua puluh tiga tahun. Wuah, ndak terasa hampir seperempat abad kita hidup. Sepertinya kamu terlalu sibuk dengan urusanmu menganalisa ini-itu, mengurusi plintat-plintut anu-inu, berdebat,  mengkritik, dan memforsir diri untuk mengurusi remeh-temeh yang mungkin bukan kapasitasmu ya? Jian elok tenan, seperti orang becus saja... Tapi sepertinya pula, saya belum melakukan apa-apa untuk membantumu, pasti lah kau menganggap saya seperti seorang pengecut, hanya bisa diam, mencari aman saja, dan lain-lain. Lak cilaka! Padahal maksud saya ndak seperti itu, lho! Nah, sepertinya waktu kian menipis. Nah, sepertinya ini saatnya bagi saya untuk bersuara.

Di hari tenang yang konon cuma dongeng karena kampanye tetap berlanjut di akar rumput sana, saya melayangkan surat terbuka untukmu. Tetapi tenang saja, jangan keburu naik darah. Ini surat terbuka, bukan seperti surat terluka yang banyak dilayangkan untuk mempertanyakan sikap sekaligus memojokkan orang lain, kok! Saya berani sumpah. Saya menulis surat ini untuk memojokkan dan mempertanyakan sikap diri sendiri, menggugat akal, ya  menggugat kamu itu! Sukur-sukur bisa memojokkan– yang tentunya dalam artian positif, sekaligus menggugat akal segelintir orang di negeri ini. Tetapi jika dirasa cara ini ndak juga benar, maafkan lah saya yang kelewat sok tahu. Mintakan maaf kepada Gusti…

Kamu rak tentu ingat toh? Hari itu, pertengahan Mei 1998. Kita masih berusia tujuh tahun. Tapi semuanya begitu terekam jelas. Solo, kota kelahiran kita, ikut luluh-lantak akibat ulah sekelompok orang tak bertanggung jawab yang berusaha mengacaukan stabilitas negeri ini. Kita melihat pesta barbar di mana-mana. Banyak bangunan dibakar, orang-orang sibuk menjarah harta, tangis pecah di mana-mana. Ngeri ya? Tapi ya begitulah kita manusia, tamak itu rak identitas kita, toh?

Lho sik, sebentar. Kamu pasti bertanya-tanya. Mengapa saya memulai surat ini dari masa yang muram itu, pasti kamu sama seperti orang-orang yang menganggap saya terlalu sibuk membahas luka masa lalu dan tak fokus menatap masa depan, tapi ijinkan saya bertanya: jika kamu punya kerabat yang direnggut nyawanya bukan karena kesalahannya, apakah kamu dengan bebas melupakannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah karena itu memang harga dari sebuah peradaban yang gegas? Siapa yang bisa dengan tegas menolak agar trauma tak mengusik di sepanjang umur kita? Saya pastikan tidak ada. Yang membuat manusia tetap sebagai manusia adalah ketidakmampuannya melupakan trauma, lho. Trauma itu, tangga dari alam sadar manusia menuju ke alam bawah sadarnya. Sesuatu yang pengap, berbau, seperti sebuah gudang, tetapi membuat manusia sesekali harus turun ke sana, mencari apa saja yang bisa dibawa naik untuk memperbaiki hidupnya. Jadi, mau sampai kapan pun, trauma itu akan selalu relevan untuk membaca situasi politik negeri ini. Kalau kamu baru menyadarinya, tak masalah, toh urusan mengolah-rasa memang urusan saya, tapi bukankah setiap akal baru mencapai kediriannya kalau ia berbesar diri untuk dibantah? Maka kamu cukup minta maaf ke Gusti…


Kamu tentunya sudah mempelajari banyak hal. Saya tahu meski kamu ndak pintar-pintar amat, tapi otakmu juga tak ditempatkan Gusti di tempurung dengkul, sepertinya otakmu masih aman di tempurung kepala. Maka saya tak akan bicara panjang lebar mengenai sumbangsih mau pun cela capres nomor satu dan dua. Hal yang demikian sudah banyak disinggung di banyak esai mau pun buku-buku. Atau jika kamu malas, kamu masih dengan mudah menemukannya di mesin pencari seperti google hanya dengan satu dua keyword saja. Saya juga tak akan bicara mengenai kepantasan mau pun ketidakpantasan calon presiden nomor satu dan dua, karena jika saya yang bicara tentu lah tuduhan macam-macam akan disematkan kepadamu juga. Lhawong kita ini orang Solo, ya sudah pasti mudah ditebak bakal dukung siapa! Wis jan..

Saya hanya ingin mengajakmu mengerahkan segenap kemampuanmu.  Akal baru sah disebut sebagai akal jika ia tak tega mengakali diri sendiri dan orang lain. Rak begitu toh? Saya pikir sampai di sini kamu menjalankan tugasmu dengan baik untuk menjaga akalmu senantiasa jernih. Ini bukan untuk memantas-mantaskan kamu lho ya, sebab saya pikir setiap manusia yang bisa bertahan hidup pasti lah akalnya jernih. Bagaimana mungkin orang yang akalnya cemar bisa melangsungkan hidupnya? Jika pun kamu ngeyel bahwa orang jenis ini pasti ada, saya tegaskan, mereka itu secara saintifik hanya kebetulan masih bernapas, tapi tak hidup. Kebetulan bernapas dan hidup sangat jauh berbeda. Saya rasa kamu tahu maksudnya. Jadi mari beranjak dari urusan akal yang jernih ini. Yang mau saya garis bawahi hanya satu hal: dalam usahamu mempraktekkan akal jernihmu, kamu kerap menempuhnya dengan cara-cara yang cemar. Saya pun sadar saya punya tanggung jawab untuk itu karena tak mencegahmu melakukannya. Kamu ikut memaki dan  mencibir lawan politik pilihanmu. Kamu pun sadar bahwa yang kamu lakukan tidak benar, hanya saja kadang egomu minta dipuaskan. Ya sudah, wis kadung kalau kata orang tua. Biarkan saja. Minta maaflah pada diri sendiri dan Gustimu…

Saya tahu kamu jengah karena banyak orang bisa seenak udelnya mengambil pilihan politik A, tapi prakteknya B. Kian hari hanya kian bertambah kebisingan, tapi pasokan bahan bakar tak bertambah sehingga tak membawa negeri ini ke mana-mana. Mungkin itu harga dari mahalnya demokrasi. Saya paham kamu pun pening sebab kian hari kian banyak orang tak lagi malu jika suaranya bisa dibeli dengan uang, padahal tokek saja sampai akhir zaman tetap konsisten sama suaranya: "tokeeek!" Mungkin karena mereka merasa kepentingan pribadinya harus ditempatkan di atas  kepentingan orang banyak, harus jadi keutamaan daripada sekadar memikirkan cara pandang politik para pemilih pemula misalnya. Tapi kamu pun tak punya hak mengkritisi, toh itu cara mereka bertahan hidup. Terlepas dari apakah fasilitas yang nanti mereka terima usai pemilu tak seberapa nikmatnya jika dipimpin oleh pemimpin yang salah, itu urusan lain. Mereka hanya belum sadar dan kamu harus terima itu. Mintakan maaf saja ke Gustimu…

Kamu pun sudah tahu bahwa sejarah dipesan karena pemesannya tak bisa memesan masa depan. Jika alat tukar itu ada di genggaman kita dan nilainya sebesar satu suara, masakkah kita rela menyia-nyiakannya? masakkah kita rela menghabiskan banyak waktu untuk mencaci dan memaki hingga lupa mengemban tugas masing-masing, sesuai dengan kemampuan kita? Saya hanya memintamu berfokus pada sosok pilihanmu.  Kalau sudah mantep, dukung dengan segenap hati dan langsung menjadi oposisi jika ia terpilih nanti. Kamu sudah lihat betapa banyaknya orang yang tadinya apatis dan apolitis tergerak turut serta membantu. Tak pernah dalam sejarah kita ada gerakan massa demikian besarnya untuk satu tujuan kebaikan yang sama. Jadi saya harap jelas lah pengertianmu mengapa saya mengawali surat ini dari satu potongan kejadian itu. Setiap negara yang ingin maju tak pernah membiarkan sejarah negerinya hanya tercatatkan di lembar-lembar buku dan teronggok di museum, setiap negara maju membawa serta trauma masa lalu dan meminta generasi mudanya menyalin itu dalam ingatannya.

Kini waktu kian menipis, orang-orang jahat akan terus ada, tetapi orang-orang baik pun akan selalu  lahir setiap harinya. Nasib kerja demi kebaikan memang akan terus ditingkahi bermacam-macam fitnah, tipu daya, bahkan aniaya, tapi itu lecutan kita untuk terus maju dan berkarya. Mari bekerja bersama untuk masa depan yang lebih baik. Mari membangun rumah yang nyaman untuk anak cucu kita– sebuah rumah yang tetap nyaman ditinggali meski mungkin hujan membuat rumah bocor di mana-mana, tetapi setidaknya hujan air jauh lebih menggembirakan daripada hujan peluru, bukan? 

Mari melangkah ke dalam bilik suara tanpa suara, karena kita sudah membulatkan suara untuk satu sosok: ia yang menekankan kerja, kerja, dan kerja tanpa banyak bersuara.


Salam,
Nurani.

Jakarta, 8 Juli 2014



Beberapa Pertanyaan untuk Tukang Kayu

Bagaimana cara memilih
pohon yang kayunya kuat?
tanyamu pada mulanya.

Dengan mendengar denyut
dalam akarnya, jawabku.

Bagaimana cara mendengar
denyut akarnya? tanyamu.

Dengan mengajak bicara
daun-daunnya, jawabku.

Bagaimana cara berbicara
dengan daun-daun? tanyamu.

Dengan merasakan sentuhan
angin di kulit, jawabku.

Bagaimana cara merasakan
sentuhan angin? tanyamu.

Ketika kau memutuskan
menebang tanpa kapak.

Bagaimana mungkin seorang
tukang kayu bisa menebang
tanpa mengayun kapak?

sejak matamu berayun
dan merobohkanku,
jawabku pada akhirnya.


Jakarta, 2014






Hadiah untuk Ingatan

hanya ia,
hanya perempuan itu

yang paling tahu
cara menurunkan demam
sebuah masa yang muram.

Di bawah tungkainya,
sungai-sungai mengalirkan waktu

waktu yang tak sekali pun menyumbat
tapi sesekali mengalirkan bangkai

di lain waktu potret dalam bingkai
masa muda yang kusut tak terurai.

Di bawah tungkainya,
pohon sejarah tumbuh
ke dalam tanah
menyumbat banyak wajah
dan banyak kisah.

Hanya ia,
hanya perempuan itu

yang tahu cara menghidupkan
perapian dalam diriku.

Sejak percakapan mendingin
sejak aku tak lagi mampu
menyulam cuaca,

meski berupaya mengingat
dari panas tubuhnya.

Jakarta, 2014

Tiga Puisi Pertama Sejak di Rantau



1/ Di Kedai Kopi Anomali

Di kota ini setiap orang tak membutuhkan wisata sebab wisata terbaik di kota ini menjelajahi setiap orang. Katamu, kau menyukai tempat ini meski hanya itu saja pemandangannya. Cara pandang adalah gaun  yang selalu baru meski tubuhmu itu melulu.  

Kita memasuki ruangan yang dihujani aroma kopi. Tiba-tiba seluruh badanku basah. Ingatan seperti payung yang senantiasa tertutup jika teringat akan tiga hal: percakapan, rasa dataran tinggi, dan kesendirian. Ah, bagaimana mungkin ada percakapan dan ada kesendirian? Tanyamu. Mungkin, lihat saja orang kota, jawabku.

Dalam tubuh yang hiruk-pikuk, Tuhan hidup menggelandang. Tubuh yang baik harusnya punya alarm kapan harus telanjang dari bising kapan harus berpakaian sunyi. Kapan harus ditelanjangi waktu, kapan harus menelanjangi kenangan. Tetapi untuk tahu kita telanjang kita harus di tempat yang penuh cahaya. Maka aku bilang tak menyukai tempat remang karena ia menyamarkan kesadaranku: apakah aku telanjang atau berpakaian?

Tiba-tiba kau minta pulang. Alarm lain membangunkanmu.  Aku menurutimu, sebab orang tua pun akan merasa seperti telanjang jika kau membangkang. Kau tak akan jadi gaun yang indah bagi mereka.

2/ Di Sebuah Café yang Kursinya Kau Sukai

Aku memasuki kafe dengan basah kuyup. Kota ini senantiasa menghujaniku dengan asap, keringat, dan kebisingan.Ya, kota ini begitu mudah basah oleh hal-hal kering, juga begitu mudah kering oleh hal-hal basah.  banyak tangisan mudah kering oleh langkah kalender dan tenggat pekerjaan, dan sebaliknya.

Ah, kota ini memang berkebalikan. Seperti jungkat-jungkit dengan pengungkit yang lepas engselnya. Semua serba terbalik dan terlempar dari titik tumpunya. Akar pohon tergantung di langit dan awan-awan mengalir dari selokan ke sungai. Tiba-tiba kota yang serba berkebalikan tersedot kembali ke porosnya setelah kau memecah lamunanku: “aku orangnya mudah bosan. Mari pindah.” Aku mengikutimu. Pindah adalah cara berdiam yang tak efektif, batinku.


3/ Di Goethe

Dengan terbata-bata kau mengucap namaku. Dengan bata-kata kubangun kesadaran yang semula hanya punya pondasi dari alam mimpi: aku menemukanmu, meski tak yakin bisa sembuh dari semu.

Aku berencana membangun rumah yang bertingkat satu, sebab aku tak menyukai rumah yang terlalu besar. Rumah yang besar tak bisa mengekalkan kehangatan. Banyak celah ruangan yang dingin dan membuat penghuninya menggigil seperti sepasang kekasih yang saling menjaketkan tubuh dari terjangan ketidakpastian dengan sebuah kata mungkin.

Tapi di ruangan ini aku mendadak ingin membangun rumah yang tinggi bagai menara untuk menampung banyak nada-nada. Nada yang memayungi tingkap-tingkap bahasa di mana aku dan kau duduk di balkon utamanya sambil memandangi orang yang lalu-lalang, tak lama kita tersenyum tipis karena memikirkan hal yang sama:
Di kota ini setiap orang tak membutuhkan wisata sebab wisata terbaik di kota ini menjelajahi setiap orang .

Tiba-tiba aku ingin membentangkan sebuah peta dan mencari tahu tujuan wisata manalagi yang bisa kujelajahi hanya dengan bercakap-cakap denganmu.

Jakarta, 2014