Sefer Tehillim

Seluruh rasa bersalahku bukan milikmu lagi sejak parit di kota ini bertalu-talu menjerit, terhimpit  sajak yang sakit. Sejak sel-sel darahku membeku seperti permata yaspis, doa dalam tanganku mengeras jadi bentangan gunung batu. Kelemahanku luwung berlindung dalam bening getah kesumat, siap mengesumba kota dengan amarah imamat. Kota ini tidak berlumut, tidak lisut akibat mulut penghasut. Malam kota ini tak tunduk mengadu kepada bayang matahari di gigir tengkukmu. Waktu menghapusku, sekam yang ditiup angin. Waktu memupusku, gunung terpasung laut dingin. Seluruh rasa bersalahku menolak membungkuk-bungkuk selain kepada langit yang kelak memenjarakannya. Sejak pengajaran jadi pengejaran-pengejaran melelahkan dan kekosongan seolah tak pernah landai, tak pernah membuat ketidaktahuanku sampai.

Aku ingin mencintaimu tanpa perasaan waswas. Kecemasan hanya boleh memberi lekuk pada tubuh malam. Sedangkan aku cukup jadi pelintasan yang lapang. Aku ingin mencintaimu dengan perasaan mawas para kerub yang berjaga di jalan pohon kehidupan. Masihkah kau terima sungkur di antara lalai dengkurku, jika kenangan tak seharum nilam dan ranjang trauma tak berlapik tilam? Aku ingin memujamu dengan seribu dendam yang menyatu di tembikar tukang periuk. Aku ingin mencintaimu dengan sisa-sisa demam yang meleleh dalam nganga belanga murkamu, meski nantinya tertimbun dosa, dibusukkan rimbun suara, lupa sejuk embun di liang api selamanya.

2015