Dasar

Pria seperti timba yang sepanjang
hidupnya menduga sampai mana
dahaga. Sedangkan perempuan
seperti sumur yang harus pandai
mempermainkan kedalaman.

Semarang, 2014

Nubuat Pagi

1/
Pagi telah menelusuri jalan-jalan sunyi
di punggung ibuku, kedua telinganya
mengikuti tuntunan gerimis kidung kasih
dari penampang daun-daun lontar yang
mengiring keberanianku menapak ke langit:
"Ini masa mudaku, tak lah hitam sewarna
jintan, tak lah putih bak kirmizi. Tetapi
abu seperti mata rabun anjing penjaga."

2/
Tetapi dari ketegaranmu menangkal
masa lalu itu aku kian paham: nasib itu
pokok-pokok doa yang dipanjatkan,
sementara kita, dua mata pisau yang
malah menebas betis dan tekad sendiri
karena tak yakin kokohnya naungan
dari nubuatan-nubuatan dalam diri kita.

3/
Semoga kau tak berat hati menopangku.
Karena aku kecemasan dalam nafsu
para melanun di negeri yang jauh, yang
mengharap limun dalam segelas lamun.
Pagi lenyap juga setelah sepasang matamu
bergegas menghilang ke punggung gunung:
"Selama pagi masih tersusun dari mendung,
cinta akan selalu seputar rindu dan murung."

Semarang, 2014

Tentang Absalom

Aku pun tak benar-benar tahu
apa andilku dalam belantara ini.

Akankah aku hanya sejenis tupai
atau hewan-hewan pencari murbei?

atau raja rimba yang kekalkan
cinta di taring dan tarungnya?

Aku pun tak benar-benar tahu
apa yang akan aku upayakan,
selain memasrahkan diriku,
selain terus membangun sarang,

sebelum khianat jalin-menjalin
hingga ujung rambutku
seperti Absalom yang malang.

Semarang, 2014

Datang

Sebentar lagi ia datang
menggandeng turun bulan,

meninggalkan dunia benderang
yang membekas di pelipis.

Dari dua tangkup tangan
yang tak saling tangkap
dan memilih melipat jari,

kebenaran harus dibelah
meski selubungnya bergetah,

sebab dunia hanya ajarkan
cara menyayat dan mengiris.

Sebentar lagi ia datang,
setelah kita melihat,
secercah damai itu:

malaikat yang bertandang
ke dalam sepasang matamu
ketika subuh dan petang.

(2014)

Ex Nihilio

Akan ada kata-kata yang senantiasa terjaga,
ada pikiran-pikiran yang hendak mengungsi,
ketika rumah tak lagi dibangun dalam diri.

(2013)