Septuaginta

Seekor tikus hitam
menggondol sebuah kata
yang jatuh di lantai pesta.

Ia seret sekerat kemudian
dan dibawa ke sarangnya. 
Ia telah lunaskan 
yang tak terjemahkan.

Sebab seisi meja makan
telah penuh anggur dan mur.

Sebab kealpaan tinggal kepalan 
dan lekuk tubuh perempuan
tak lagi memikat para pemazmur. 

Ia bawa serta ingatan
dan cara berbahasa kita.

Ia bangun sarangnya
di pojok gelap Sorga 
yang tak tersentuh
lalu-lalang doa-doa.

2014

Imago Mundi

Hanya biru laut. Hanya laut.
Siang malam kita teropong.
Hanya biru laut, lembar tabut.
Bayang wajah yang terpotong.

Tiada bayang emas dan sutra.
Hanya hijau pesona selalu
berdenyut di kelopak mata.

Tapi aku tak cari pantai,
hidup sudah cukup landai.
Aku hanya menantang
Tuhan yang semayam
dalam gejolak gelombang
: cinta adalah firman yang
berangkat dari kutukan!

Hanya laut, kelebat kalut.
Kau masih tak tertempuh.
tak mungkin turunkan sauh.

Letih penjelajahan ini
akan berakhir di mana,
Jika tak tertambat
di tanjung nyawamu?

Hanya wajahmu, rupa waktu.
yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana.

Jakarta, 2014

Kesedihanmu Melahirkanku

Kesedihanmu melahirkanku. Di lain waktu membunuhku.
Ia rahim sekaligus liang lahat, lorong antara lupa dan ingat.

Jika hari rembang petang, aku amati orang sembahyang.
Kadang timbul pikirkan ingin bergabung, tapi tubuh ini
tersusun dari murung hingga tak tahu cara berkabung.

Aku tak ingin melihat kesedihan mempermainkanmu,
tetapi hal ini membuatnya kian mempermainkanku.

Kesedihan mungkin seperti sebuah wahyu temurun,
ia pun menanti digenapkan, entah oleh mautmu
atau mautku, hari depan kita bergantung maunya.

Kuhitung kecup dan pelukmu yang berkati tubuhku,
agar ada bekal jika hidup yang digariskan kemudian
tak kekal, aku tak ingin kematian menakut-nakutiku.

kuasanya tak boleh lebih besar dari ketiadaanmu. 

Jakarta, 2014

Angin Laut

Laju rindu seperti angin di laut lepas. Kecepatannya tujuh knots.
Bertiup sepoi, kadang sepi. Menyejukkan hati, menyingkirkan
kecemasan soal mati. Lalu air laut bercampur butiran garam
menetes dari ingatan, yang terendap tinggal asin air mata.
Rindu dan sunyi itu tanjung dan teluk, keduanya saling
mendesak-bertumbuk: hanya untuk menagih peluk.

Jakarta, 2014

Di Bioskop (Tak Ada Tokoh Baru)

"Aku ingin menyutradarai kita"
katamu seraya meninggalkan
deretan bangku-bangku ini.

Aku bayangkan apa jadinya 
diriku tanpa dirimu, seperti
membayangkan nasib kota 
ini tanpa kehadiran bioskop.

Ruang ini simpan kantukmu.
Ia menyalin sejumlah adegan 
yang telah ribuan kali diputar,
dari senyum yang dipaksakan,
lambaian yang tak diniatkan:
untuk berjaga jika kau tak ada.

Ruang ini simpan debarmu.
Ia kekalkan hangat tubuh
yang menyandar ke bahu,
gurauan-gurauan kecil, dan
jemari yang saling bertaut:
tak sedikit pun ada celah
bertandang bagi maut.

Aku mengejarmu. Hari lalu
mengejarku. Tak kutemu kau.
Padahal di luar gedung ini
irama hujan begitu ritmis.

Aku mulai membayangkan
bagaimana akhir ceritaku
jika kau hanya fragmen,
sejak cinta kian mudah
dipermainkan sentimen.

Lalu tiba-tiba kekosongan 
terasa sangat filemis.

Jakarta, 2014