Artificial Paradise

Puisi ini
seperti lembah
yang melihat semuanya
dari jauh.

Ia tahu
perubahan bentuk awan,
gemerisik dedaunan,
retakan tebing batu,
bahkan hafal
kapan kabut turun
untuk menciumi
sepasang kelopak matamu
hanya untuk memastikan
hadirnya musim semi
dalam tidurmu.

Tetapi bagaimana
puisi ini akan lestari
jika hawa panas
dalam diriku
tak bisa dibendung lagi
dan kemarahanmu
jadi semak berduri?

Akan kah rumpun bunga
sebutlah Gandasuli
Lembayung, juga Manila
mengembalikan wangi waktu,
menjadikan ingatan semerbak
kendati tubuh bukan lagi
belantara yang ditumbuhi
hasrat purbani?

Puisi ini seperti lembah,
siang-malam
mencemasimu dari jauh,
mengawasimu dari
kemungkinan terjatuh,
hanya saja
kata-katanya sudah
jadi padang sabana,
murung memikirkan
perasaan-perasaan halus
yang enggan memetiknya.

2014

Menjembatani Kita


Sungguh, sejak mula kita bersitatap, tubuhku seperti sungai yang tak bisa membendung arus yang purba dalam dirinya. Sungai dalam diriku seperti mengenali arus jantungmu yang ricik, ia seakan meluruhkan segala pikiran-pikiranku yang picik. Menangkapmu seperti membebaskan ketakutan-ketakutanku. Sedangkan kau seperti anak kijang yang mulai tahu letak mata air.


Ini lah musim ladang tak berpanen dan tuaian tak bertuan, tak lama lagi rahasia demi rahasia berjatuhan. Tetapi sepasang matamu seperti daun jendela surga, darinya aku melihat sesorot cahaya masih dapat menembus kamar-kamar gelap dalam tubuhku: cermin dari cerminmu. 

Sungguh, jemari kita yang bertautan seperti jembatan hari depan, ketika aku membayangkan apa rasanya duduk denganmu di tepinya, menanti maut, arus deras sungai itu menerpa kita, tanpa memikirkan sepasang tubuh yang dihempas-hempas takdir ini akan bermuara ke mana.

Jakarta, 2014

Sebuah Pengantar Membaca Perempuan

Ini pengantar yang aneh. Aneh karena sesungguhnya pengantar ini tak mengacu kepada apa, tak mengarahkan agar kau menjadi siapa, dan tak memandu dengan bagaimana. Tetapi pengantar jenis ini kadang perlu untuk mengingatkan pada dasarnya setiap orang suka dipandu dan diarahkan meski tahu tak ada jalan di hadapannya, tetapi setiap orang menyukai perasaan seolah-olah ada jalan keluar itu, sebab kadangkala kebuntuan baru juga  bisa jadi jalan keluar bagi kebuntuan lama.

Setidaknya yang menggembirakan dari menemu kebuntuan adalah setiap orang punya arah meski belum punya jalan. Tak seperti rindu yang meski punya jalur ia kadang tak punya arah, yang berkebalikan dengan kenangan, ia tak punya lintasan pasti tapi pasti melintas. 

Tetapi kau harus berjanji tak akan terlalu khidmat membaca pengantar ini. Kata-kata yang kini menatap sepasang matamu begitu jahil dan senang mengajak bermain. Kata-kata jenis ini bandel dan tak menuruti siapa pun kecuali perintah dari yang tak terkatakan. Sampai di sini jika kau belum juga menemukan apa yang kau yakini akan menuntunmu, sebaiknya tanggalkan keyakinanmu dahulu.

Baiklah, saya bocorkan sedikit: sesungguhnya seribu buku pun tak akan cukup sebagai pengantar membaca perempuan. Sebab buku memberi pengetahuan dari yang terbaca, tetapi perempuan memberi pengetahuan dari yang tak terbaca. Mungkin ini pengantarnya, mungkin juga ini pengantar yang tak mengantarmu ke mana-mana,

kecuali kau betah berdiam dan menunggu ia menagih ciuman-ciumanmu.

Solo, 2014

Hulu Ledak

Asap kota
mengganti basah embun.
Siang mekar di ubun-ubun.

Tapi waktu dalam tubuhku
membungkus dirinya,
menulis sendiri hukumnya.

Cinta yang tertimbun
bertahun-tahun
terbiasa menentukan
siang dan malamnya sendiri.

Ia tak peduli dengan
perubahan bentuk awan
tak pernah tengadah
mengamati bintang-bintang.

Sejak sunyi
menarik hulu ledaknya,

waktu hanya tertarik
merakit ulang diriku.

Solo, 2014


Melankolia I: Lampu Jalan

Seperti sudah kau siapkan sebelumnya
setibanya aku di kampung halaman
lampu-lampu jalan menyambutku.

Terang menelaah pantulan bayanganku
gelap yang sedari dulu kau cintai.
Sosok yang membenci dirinya sendiri
sebab ia tak bisa ikut ambil bagian
ketika kita menanggalkan pakaian.

Cahaya mengupas segala yang samar.
Engkau tertawa dalam senyum sumur
begitu manis dan dalam tak terukur.

Bibir kita seperti dua tangan saling hadap
begitu dekat, tetapi enggan saling suap.
Kita hanya terduduk, dibelenggu senyap
karena bahagia masing-masing tak siap.

Jangan kau tanya di mana kata-kata
ia di pinggang langit malam, menguap.