Air Diri

Aku selalu mencintai air yang mengalir.
Mungkin karena sebagian besar tubuhku
tersusun dari air, mungkin karena kau 
masih akan jadi akhir. Sedangkan kau
kuharap akan membaca tulisan ini
tak peduli kapan, tak peduli di mana,
aku hanya berharap kau membaca ini
dengan perasaan yang segar seperti
perasan-perasan limun dan pikiran
yang tak dikungkung tebal halimun.
Semoga matamu masih langit mendung
agar aku yang tinggal di dalamnya bisa
kau bawa ke mana pun: ke rengkah tanah, 
ke batang pohon, ke pucuk-pucuk daun,
agar aku bisa jadi ricik atau rintik semauku.

Namun aku tidak menyukai air tenang.
Segala yang menggenang meski tenang
selalu menyimpan kegetiran yang pekat,
kesedihan yang berlarat-larat. Umpama
genangan air yang bercampur lumpur,
siapa bisa meredakan badai waktu yang
kian hari kian membuat kita makin uzur?
Aku merasa kebohongan adalah genangan
air yang tak bisa dihapus lubang jalan
dan kita pernah menjadi sepasang kekasih
yang tergila-gila dengan cuaca-cuaca buruk,
rindu kekosongan ketika saling terpuruk.

Dan cintaku masih air hujan pada talang 
yang mengusik tidurmu dengan aliran
lembutnya. Aku akan menantimu bangun
di simpang sunyi dan rindu: dua arus 
yang kelak bermuara di samudera waktu.

Mengalirlah, mengalirlah juga,
sampai tak ada lagi hari untuk terjaga.
Mengalirlah denganku sampai jauh
sampai hari esok kian tak tertempuh.

Jakarta, 2014