Sepeda Tua

Duduklah di belakang. Duduklah meski bantalannya tak empuk benar.
Duduklah sambil menikmati guguran daun, sejuk embun pagi hari,
tetangga yang masih saling menyapa, dan sejumlah wajah
yang kita lihat sepintas dan tak akan kita jumpai lagi.

Duduklah hingga bayang-bayang lebih nyata dari diri sendiri,
biarkanlah angin bermain-main di rambut dan wajah kita.

Waktu akan mengantarkan kita seperti sepeda tua ini,
ke mana saja. Selama kakiku masih kuat mengayuhnya,
selama napasku masih berumah di tubuh dan sukma.

Duduklah di belakang. Aku dan sepeda tuaku sudah berjanji
akan menjagamu, menggulirkan doa-doa seperti gerak roda.

Berpeganganlah, ketatkanlah peluk seperti cinta tanjung
kepada teluk. Sebab aku tahu hati kita lebih berkelok
dari tepian sungai, lebih berlekuk dari celah tebing batu,
lebih menikung dari jalan perbukitan, tapi tidak buntu.

2015