Rahasia dari Sebuah Kebun

Kau adalah ratap yang pecah
dari penanam rempah-rempah

yang tak mencium wangi
berkat dari meja makannya.

Sedang waktu itu biji cengkih
di ujung palu yang menyerpih,

dicatat udara sepersekian detik
menjadi debu di alis yang lentik.

Di cuaca yang tak menentu ini
doa-doa lenyap disergap prasangka

dan ingatanku padamu seperti kapak

: aku tak tahu mana sisi yang tajam
kecuali ada bisikan dari arwah kayu
yang menyusup di hutan matamu.

2014

Drupadi

Jika hidup memaksaku tergelincir maka jatuhkan aku di lengan yang
menanggung dendam sewarna pualam pada Durna: murka yang purna.

Aku dahan trembesi yang letih. Dimabuk senyummu kidung pamuji
menghidupkan ruh gamelan dalam masa mudaku hingga tak tahan uji.

Dengan apa aku membayarnya jika kesaktianmu tak melunaskan
seluruh kesakitanku selain dengan mengikhlaskan seluruh traumaku?

Jakarta, 2014

Padahal Aku Ingin Memelukmu

Padahal aku ingin memelukmu, tapi kini aku
tak bisa melakukannya dan mulai berusaha
membayangkan seandainya aku memelukmu.
Toh aku sudah lupa wangi asli tubuhmu.
Aroma kulitmu lapuk ditimbun lima lapisan
kimiawi. Ia menimbun apa saja termasuk
percakapan kita. Kecantikanmu seperti bahasa
baru yang tak kupahami meski kubaca dengan
mata menyala. Sebab sorot mataku hilang daya
seperti salju terakhir di bulu lembut serigala.
Mendekam. Mendekat. Mendekap. Menekan.
Mendekat. Mendekap. Menerkam. Diterkam.
Aku lupa teknik terkaman pemangsa itu meski
hidup hanya perkara memangsa dan dimangsa.
Sebab hari ini aku mungkin runtuh karena waktu,
tapi siapa tahu esok ingatan menyusun tubuhku.

Padahal aku ingin memelukmu, tapi suatu pagi
aku terbangun dengan perasaan embun kota.
Tampak sebentar lalu hilang dua bentar lagi.
Jauh di bawah tubuhku pabrik-pabrik mengalirkan
limbah langsung ke ususku. Membuatku mual
hingga merapal sejumlah pemberkatan doa
dari kematian leluhurku agar menyertaiku.
Setiap malam seorang pertapa melewati tikungan
gelap di sana hanya untuk menguji ritma tarikan
napasnya sebab bau belerang di mana-mana.
Kesedihan di mana-mana.Yang ia hirup tak sesuai
dengan yang dihembuskan hidup. Maka berikan aku
kata yang tak bisa melukai dirinya sendiri!
Hingga cinta membangunkan sebuah gergaji mesin
dalam perutku. Memotong lambung, memotong mesin
ketik macet, memotong lemari dan hal-hal yang rahasia.
Padahal aku ingin memelukmu, tapi bau belerang
begitu kuat. seperti trauma setengah penduduk jagat.


Jakarta, 2014

Anjana

Aku masih mencintaimu.
Bahkan dalam mati sekalipun
aku masih akan mengatakan itu
jika memang kata-kata masih
punya nyawa di alam sana.

Sudah cukup hidup merampas
nikmat matiku. Aku tak ingin 
bayangan akan kematian
masih mempermainkanku.

Aku ingin makamkan mayatku
di liang lahat yang diselimuti
kabut napasmu, kabulkanlah.

Sebelum kabut waktu susut
dan menguburkan tubuhku
dalam sunyi tak terkata.

Jakarta, 2014

Septuaginta

Seekor tikus hitam
menggondol sebuah kata
yang jatuh di lantai pesta.

Ia seret sekerat kemudian
dan dibawa ke sarangnya. 
Ia telah lunaskan 
yang tak terjemahkan.

Sebab seisi meja makan
telah penuh anggur dan mur.

Sebab kealpaan tinggal kepalan 
dan lekuk tubuh perempuan
tak lagi memikat para pemazmur. 

Ia bawa serta ingatan
dan cara berbahasa kita.

Ia bangun sarangnya
di pojok gelap Sorga 
yang tak tersentuh
lalu-lalang doa-doa.

2014