Jika Sajakku Tak Bisa Lagi Menanggungmu

Sajakku punggung yang bisa memikul beban apa saja
tapi tak pernah bisa menanggung kesepian sendiri,
otot dan tulangya tak dilatih memanggul sebuah nama
yang memisahkan lengangku dari hiruk-pikuk dunia.

Tahun kembaraku tak mengajari memanggul suka cita
maka aku akan menempuhmu hanya dengan kaki lepuh,
hari-hari penuh peluh dan seikat doa hasil telimpuh.

Pada belikatmu telah kuikatkan bakal belulangku

agar ia bisa ganti menuliskan perjalanan ini andai
ketakberdayaan sudah merongrong sajak-sajakku.

Jika nanti sajakku tak kuasa lagi menanggungmu,

sudikah kau meminjamiku sepasang lututmu?

agar jauh linu dari sendi, jauh rindu dari sunyi
sebelum waktu kiam curam dan kian tak terdaki.


Jakarta, 2014

Ziarah Lambung, 2

Sejarah yang masih belia adalah pintu menuju pintu,
titian candu ke kolam mangu: riwayat lebih purba
yang memuat banyak tanya dan tanda dalam dada. 
Aras sejarah itu rasa lapar, kata serapan tanpa makna
jika kenyang asalnya menulikan diri dari serapah sesama.

Betapa hidup tinggal peduli pada siapa yang menjegal
tanpa melihat yang tersunjam, tergelincir licin asam.
Mencerna daging langit dengan geraham dunia hanya
membuat lapar jadi koyakan-koyakan kecil kelakar
tanpa ingat Surga pun lambung bagi rasa syukur
dan Tuhan tak bersiasat saat membagi nikmat.

Makan lah, minum lah. Sunyi sudah diedarkan 
bagi manusia sebelum maut sesukanya menentukan 
kapan waktu makan kita, kapan waktu lapar selamanya.

Jakarta, 2014

Ziarah Lambung

Yang tertinggal dari
masa kanak-kanakku,
telah dihantarkan nadi
(barangkali juga dihaturkan)
melalui jaringan pembuluh
dari organ tubuh yang serupa
setengah belah waluh.
Sejumlah kutukan menjelma
ketukan-ketukan tanpa irama,
jadi gema dari lembah sunyi
yang tak bisa lagi kau cerna
sebab zat dan udara telah sirna.
Yang tersisa dalam tubuhku
hanya sunyi sepekat mangsi
diendapkan dalam kirbat
tercampur sebab-akibat,
dengan sejumlah nama
hari yang lupa kita catat,
sebelum ingatan jadi sangsi
dan diri kehilangan hakikat.
Entah dengan kuning gulai
atau merah balado kau lunasi
makan siangmu, sore akan
tetap menggerogoti langit putih
meninggalkan dindingmu
yang gelap lagi lembab
seperti bayangan menyerpih
meninggalkan pohonan Baobab
menuju gerumbul senjakala.
Jangan lagi kecupan-kecupan
itu membuatku menuliskan
lapar dengan pahit ensim atau
dengan keterdesakan musim
sebab luka telah bikin limbung
— telah sirna ketajaman kamka
kukuhkan kekosongan lumbung.


Jakarta, 2014

Artificial Paradise

Puisi ini
seperti lembah
yang melihat semuanya
dari jauh.

Ia tahu
perubahan bentuk awan,
gemerisik dedaunan,
retakan tebing batu,
bahkan hafal
kapan kabut turun
untuk menciumi
sepasang kelopak matamu
hanya untuk memastikan
hadirnya musim semi
dalam tidurmu.

Tetapi bagaimana
puisi ini akan lestari
jika hawa panas
dalam diriku
tak bisa dibendung lagi
dan kemarahanmu
jadi semak berduri?

Akan kah rumpun bunga
sebutlah Gandasuli
Lembayung, juga Manila
mengembalikan wangi waktu,
menjadikan ingatan semerbak
kendati tubuh bukan lagi
belantara yang ditumbuhi
hasrat purbani?

Puisi ini seperti lembah,
siang-malam
mencemasimu dari jauh,
mengawasimu dari
kemungkinan terjatuh,
hanya saja
kata-katanya sudah
jadi padang sabana,
murung memikirkan
perasaan-perasaan halus
yang enggan memetiknya.

2014

Menjembatani Kita


Sungguh, sejak mula kita bersitatap, tubuhku seperti sungai yang tak bisa membendung arus yang purba dalam dirinya. Sungai dalam diriku seperti mengenali arus jantungmu yang ricik, ia seakan meluruhkan segala pikiran-pikiranku yang picik. Menangkapmu seperti membebaskan ketakutan-ketakutanku. Sedangkan kau seperti anak kijang yang mulai tahu letak mata air.


Ini lah musim ladang tak berpanen dan tuaian tak bertuan, tak lama lagi rahasia demi rahasia berjatuhan. Tetapi sepasang matamu seperti daun jendela surga, darinya aku melihat sesorot cahaya masih dapat menembus kamar-kamar gelap dalam tubuhku: cermin dari cerminmu. 

Sungguh, jemari kita yang bertautan seperti jembatan hari depan, ketika aku membayangkan apa rasanya duduk denganmu di tepinya, menanti maut, arus deras sungai itu menerpa kita, tanpa memikirkan sepasang tubuh yang dihempas-hempas takdir ini akan bermuara ke mana.

Jakarta, 2014